Woensdag 10 April 2013



POTRET KEHIDUPAN PARA PEMULUNG 
TANJUNGPINANG (08.04.13): Aroma yang  menyengat dan lalat-lalat bertebaran dimana-mana tidak menyurutkan keingin para pengais reski yang kesehariannya berdiri dan bergelimang dengan barang-barang bekas dan bau-bau yang menyengat.
Ketika mewawancarai beberapa pemulung yang lagi berebutan mencari barang bekas ada salah satu dari mereka yang berhenti dan mau di wawancarai dengan wajah sopan, yaitu Rosnida seorang pemulung yang berusia 45 tahunan.
“Saya keseharian duduk dan menunggu truk-truk yang baru datang yang membawa barang-barang bekas atau membawa sampah-sampah yang berasal di seluruh penjuru Tanjungpinang, dengan raut wajah yang lesu dan berpakain kumal  Rosnida selalu berebutan dengan orang-orang lain yang mengais reski di tumpukan sampah ini.
Rosnida bercerita jika di di tanyakan satu persatu ada nasib dari mereka yang lebih prihatin dan ada yang beruntung ketika mencari barang bekas di tumpukan TPA ini, walau bauk menyengat dan lingkuhan yang di penuhi lalat hijau tidak membuat mereka menyerah hanya demi bertahan hidup.
Masih banyak pemulung lain yang tidak mau menyebutkan namanya, mereka mengatakan kepada saya mencari sampah atau barang bekas di sekitar TPA ini untung-untungan mbak , terkadang banyak terkadang sedikit.
Mereka menceritakn di TPA ini sampahnya sebahagian di kelola untuk di jadikan pupuk karna di liat di sebelah tumpukan sampah ada tiga buah kolam yang di gunakan untuk penyulingan atau proses pembuatan pupuk.
Seorang petugas kebersihan yang di wawancarai mengungkapkan bekerja disini harus tahan banting Mbak karena keseharian berkecimpung dengan aroma yang menyengat, jika tidak kuat bisa muntah-muntah ungkapnya dia melarang untuk di tuliskan namanya.
Setelah 1 jam keliling dan berbicara dengan beberapa pemulung akhirnya menjumpai Rosnida kembali dengan bajunya yang beraroma kurang bagus saya tetap bersikap biasa saja. Sambil wawancara ibu Rosnida menyantap makanan yang di antar oleh sang anaknya walaupun aroma yang kurang sedap selalu berada di hidungnya, dengan tangan yang kotor dari barang bekas Rosnida tetap lahap menyantap maknannya.(Resha Agustia)

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking