.
Dinsdag 28 Mei 2013
PELAYANAN PUSKESMAS KM 10 DIMATA MASYARAKAT
POSMETRO: Tanungpinang adalah sebuah kota yang baru berganti pucuk pimpinannya, dengan pergantian pucuk pimpinan banyak perubahan yang cukup mengejutkan walaupun belum begitu terealisasi sepenuhnya ataupun bisa dikatakan bisa juga dikatakan sebagai wadah mencari taring biar dikatakan pemimpin pembawa perubahan, salah satu yang tidak lupa diingatan masyarakat yang beberapa waktu lalu kita baca disebuah media, bahwa Pemko Tanjungpinang akan menjadikan puskesmas KM 10 berstandar internasional benar dan tidaknya itu adalah sebuah pernyataan yang kita baca.
Dari hasil pantau PM dilapangan ada beberapa orang pasien yang diwawancarai salah satu mereka yang berasal dari daerah sekitar gunung lengkuas bekerja sebagai buruh tani,namanya tidak diizinkan untuk diberitakan, beliau mengungkapkan dan mengeluhkan tidak adanya pelayanan yang begitu bagus diberikan memang tidak semua tapi ada sebahagian yang menggunakan muka masam dan perkataan yang pedas ketika memberikan petunjuk, hal senada juga di ungkapkan seorang ibu pekerja rumah tangga yang tnggal di daerah KM 18.
PM sempat melontarkan pertanyaan kepada mereka, apa pendapat ibu dan bapak tentang sebuah wacana Pemko Tnjungpinang yang ingin menjadikan Puskesmas KM 10 bertaraf internasional, mereka menjawab sambil sedikit tersenyum, yang beginian kami tak tau mbak, kami Cuma rakyat biasa ungkapnya, cuman kalo bisa kami berharap tingkatkan pelayanan dan berlakukanlah pasien dengan baik.
PM mencoba menghubungi beberapa pegawai yang berada sekitar pukesmas untuk menanyakan kelengkapan dan pelayanan yang ada pada pukesmas tersebut tetapi beberapa orang yang kita jumpai tidak mau diminta keterangan dengan alasan bukan wewenang saya ucapnya sambil pergi, sebagimana kita ketahui pelayanan kesehatan dimanapun itu harus memberlakukan para pasien dengan baik atapun dengan ramah tamah, karena pelayanan kesehatan itu sangat berhubungan langsung dengan masyarakat yang berbeda status, pasti mereka membutuhkan kenyamanan dalam berobat dan berkonsultasi(14/5/13)
.
.
FASILITAS PELABUHAN YANG TIDAK DIPERHATIKAN
Pelabuhan Tanjungpinang Sri Bintan Pura merupakan pelabuhan kebanggaan masyarakat Tanjungpinang yang telah melayani jasa bagi masyarakat dari dulunya. Setiap hari tidak terhitung berapa banyak masyarakat yang keluar masuk. Baik tujuan lokal, nasional ataupun internasional. Jika kita melihat dari perkembangan Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi. Tidak layak rasanya jika pelabuhannya semeraut dalam bidang jasa parkiran dan dari segi keuntungan mungkin penyumbang salah satu PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang besar bagi pemda setempat.
Beberapa orang karyawan jasa parkiran sempat saya wawancara. Mereka mengungkapkan mengeluh dengan mengatasi parkiran. Karena setiap masyarakat yang masuk terkadang disuruh masuk di areal tempat parkiran malah cenderung duduk diatas motor atau mobil yang berdekatan dengan gerbang pintu masuk. Itu salah satunya. Begitu juga dengan mobil plat merah yang dari hasil uang masyarakat. Yang paling sulit diatur karena setiap disuruh parkir dekat arealnya selalu alasannya jemput pejabat. Jadi kami serba salah. Padahal pejabat dengan orang lain sama saja tetap akan terjadi kemacetan. Ditambah lokasi jalan yang sempit dan sebagian berlobang.
Seharusnya pemda setempat harus membenahi semua fasiitas yang ada di pelabuhan. Baik itu dari segi jalan, dermaga, hingga di pelayanan. Baik pemda ataupun PT Pelindo dan ADPEL harus saling berkoordinasi untuk membenahi pelabuhan. Karena pelabuhan Sri Bintan Pura merupakan salah satu pintu gerbang untuk ke ibukota Provinsi. Yang pastinya mencerminkan sebagai salah satu kota besar. Tapi jika dilihat dari pintu gerbang saja sudah semeraut dan tidak bagus pelayanannya. Jangankan orang luar menilai jelek, kita-kita masyarakat saja sudah menilai jelek. Sementara uang yang dihasilkan sangat banyak. Begitu juga dengan pemda setempat yang APBD nya juga tergolong besar.
Maandag 20 Mei 2013
Monumen patung Raja Haji Fisabilillah
Tanjungpinang tempo dulu yang memiliki posisi dan kondisi dan cuaca yang baik dianggap sebagai tempat ideal bagi para armada pelayaran untuk berlindung dari serangan badai, atau untuk berlabuh sementara mengambil air dan perbekalan.
Raja Haji Fisabilillah merupakan seorang pahlawan yang memimpin perang Kerajaan Riau. Dalam perang Riau, Raja Haji Fisabilillah yang memimpin pasukan menembak kapal VOC yang bersandar di perairan Tanjung Pinang pada tanggal 6 Januari 1784. Peristiwa itu juga dijadikan hari jadi Kota Tanjung Pinang.
Untuk mengenang jasa Pahlawan dibuatlah Monumen Pahlawan Nasional Perjuangan Raja Haji Fisabilillah (1782-1784). Setelah beberapa tahun berdiri dengan gagah salah satu patung monumen tersebut jatuh lalu disusul dengan diturunkannya ke 4 patung lainnya.
Sejumlah pihak mempertanyakan kapan Monumen Raja Haji Fisabililah akan dibangun kembali pengganti patung yang telah roboh beberapa tahun lalu. Lembaga Adat Melayu Kota Tanjungpinang juga mempertanyakan hal ini. Pasalnya, lambang di monumen RHF tersebut merupakan simbol/ikon yang dimiliki ibukota Kepulauan Riau.
Sejumlah pihak mempertanyakan kapan Monumen Raja Haji Fisabililah akan dibangun kembali pengganti patung yang telah roboh beberapa tahun lalu. Lembaga Adat Melayu Kota Tanjungpinang juga mempertanyakan hal ini. Pasalnya, lambang di monumen RHF tersebut merupakan simbol/ikon yang dimiliki ibukota Kepulauan Riau.
Selama ini banyak pro dan kontra terhadap pembangunan Monumen RHF dengan patung Raja Haji Fi Sabilillah. Keberadaan patung Raja Haji Fisabillah mengingatkan kembali kita dan diharapkan agar generasi muda sekarang harus ada seperti Raja Haji Fi Sabilillah yang berani, memberikan pendidikan moral, memberikan wawasan untuk berbuat baik melalui pesan-pesannya di Gurindam. Bukan untuk disembah.
Semenjak tahun 1784, Tanjungpinang semakin tumbuh sebagai sebuah tempat pemukiman dan kemudian menjadi sebuah kota yang juga berfungsi sebagai Bandar dagang. Dengan status sebagai kota dagang dan tempat pemukiman, Tanjungpinang memiliki peran strategis di Sumatera bagian timur setelah Medan dan Palembang. Selain itu, Tanjungpinang ditetapkan sebagai kota keresidenan Belanda dengan cakupan wilayah yang begitu luas yaitu sampai ke Sumatera bagian utara dan bagian tengah.
Dengan pertumbuhan yang terbilang pesat, Tanjungpinang waktu itu merupakan satu-satunya pusat perdagangan di Kepulauan Riau. Pasca kemerdekaan, kota ini terus berkembang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan terutama ketika ditetapkan sebagai ibukota provinsi Riau sebelum berpindah ke Pekanbaru. Setelah itu Tanjungpinang dijadikan sebagai ibukota Kepulauan Riau yang melingkupi 17 kecamatan.
Woensdag 08 Mei 2013
Parkiran Tidak Beratur Mengakibatkan Pelabuhan Sering Macet
Teken in op:
Plasings (Atom)