Panas yang
menghantam perut yang keroncongan tidak pernah di hirauakan oleh Gusnadi sang
bocah kecil yang berusia 11 tahun tepat
pada 12 Maret 2013 kesehariannya bergelimang dengan
barang bekas umumnya kita kenal
dengan pemulung yang mana jam-jam seperti ini (pukul 09.30 wib) anak
seusianya lagi duduk untuk menimba ilmu di sekolah-sekolah sementara gusnadi
malah melawan panasnya sinar mentari di tumpuk-tumpukan sampah demi mencari
sedikit reski buat membantu keuangan keluarganya.
Gusnadi terlahir dari 4 bersaudara yang mana dia anak pertama walaupun
berbeda bapak dengan ketiga adik-adiknya, meski berusia belasan tahun keinginan
Gusnadi tidak pernah surut untuk menggais sedikit rezeki dari barang-barang
bekas.
Dulu sewaktu di
tarempa saya penah mencari tanah hitam untuk di jual akunya Gusnandi kepada saya. karna saya kelas 3
SD sudah di tinggal sang ibu yang meranatau ke Tanjungpinang dan di tarempa
saya tinggal dengan bapak, karena tidak pernah di urus bapak, saya putus sekolah.
Gusnadi
bercerita jika tidak sekolah dia tetap belajar membaca, alhamdulilah bisa baca
dan nulis terkadang untuk membeli pensil saya sisipkan uang jajan yang di kasih
bapak atau ibu itu dulu sewaktu belum bisa membaca dan menulis.
Saya sedih ketika
melihat anak-anak yang lain pada memakai baju seragam, sekarang adek saya sudah
berusia sembilan tahun bang, mungkin tahun ini masuk SD, mudah-mudahan adek
saya bisa sekolah ucapnya dengan polos. Oleh karena itu saya selaku anak tertua ikut membantu walau tidak banyak,
setidaknya bisa mengurangi beban ibu.
“Bagaimana mau
mnyekolahkan Gusnadi untuk keseharian saja susah terkadang ada uang terkadang
tidak, tinggal di rumah yang ukurannya lebih kurang 5 meter persegi Gusnadi
tinggal dengan 3 saudara dan kedua orang tuanya. Rumahnya tergolong memprihatinkan
yang dindingnya di temple dengan triplek-triplek bekas.
