Maandag 01 Julie 2013

PROFIL GUSNADI BOCAH 11 TAHUN



Panas yang menghantam perut yang keroncongan tidak pernah di hirauakan oleh Gusnadi sang bocah kecil yang berusia 11 tahun tepat pada 12 Maret 2013 kesehariannya bergelimang dengan barang bekas umumnya kita kenal dengan pemulung  yang mana jam-jam seperti ini (pukul 09.30 wib) anak seusianya lagi duduk untuk menimba ilmu di sekolah-sekolah sementara gusnadi malah melawan panasnya sinar mentari di tumpuk-tumpukan sampah demi mencari sedikit reski buat membantu keuangan keluarganya.

Gusnadi terlahir dari 4 bersaudara yang mana dia anak pertama walaupun berbeda bapak dengan ketiga adik-adiknya, meski berusia belasan tahun keinginan Gusnadi tidak pernah surut untuk menggais sedikit rezeki dari barang-barang bekas.

Dulu sewaktu di tarempa saya penah mencari tanah hitam untuk di jual akunya Gusnandi kepada saya. karna saya kelas 3 SD sudah di tinggal sang ibu yang meranatau ke Tanjungpinang dan di tarempa saya tinggal dengan bapak, karena tidak pernah di urus bapak, saya putus sekolah.

Gusnadi bercerita jika tidak sekolah dia tetap belajar membaca, alhamdulilah bisa baca dan nulis terkadang untuk membeli pensil saya sisipkan uang jajan yang di kasih bapak atau ibu itu dulu sewaktu belum bisa membaca dan menulis.

Saya sedih ketika melihat anak-anak yang lain pada memakai baju seragam, sekarang adek saya sudah berusia sembilan tahun bang, mungkin tahun ini masuk SD, mudah-mudahan adek saya bisa sekolah ucapnya dengan polos. Oleh karena itu saya selaku anak tertua ikut membantu walau tidak banyak, setidaknya bisa mengurangi beban ibu.           

“Bagaimana mau mnyekolahkan Gusnadi untuk keseharian saja susah terkadang ada uang terkadang tidak, tinggal di rumah yang ukurannya lebih kurang 5 meter persegi Gusnadi tinggal dengan 3 saudara dan kedua orang tuanya. Rumahnya tergolong memprihatinkan yang dindingnya di temple dengan triplek-triplek bekas.

Dinsdag 28 Mei 2013

PELAYANAN PUSKESMAS KM 10 DIMATA MASYARAKAT

POSMETRO: Tanungpinang adalah sebuah kota yang baru berganti pucuk pimpinannya, dengan pergantian pucuk pimpinan banyak perubahan yang cukup mengejutkan walaupun belum begitu terealisasi sepenuhnya ataupun bisa dikatakan bisa juga dikatakan sebagai wadah mencari taring biar dikatakan pemimpin pembawa perubahan, salah satu yang tidak lupa diingatan masyarakat yang beberapa waktu lalu kita baca disebuah media, bahwa Pemko Tanjungpinang akan menjadikan puskesmas KM 10 berstandar internasional benar dan tidaknya itu adalah sebuah pernyataan yang kita baca. Dari hasil pantau PM dilapangan ada beberapa orang pasien yang diwawancarai salah satu mereka yang berasal dari daerah sekitar gunung lengkuas bekerja sebagai buruh tani,namanya tidak diizinkan untuk diberitakan, beliau mengungkapkan dan mengeluhkan tidak adanya pelayanan yang begitu bagus diberikan memang tidak semua tapi ada sebahagian yang menggunakan muka masam dan perkataan yang pedas ketika memberikan petunjuk, hal senada juga di ungkapkan seorang ibu pekerja rumah tangga yang tnggal di daerah KM 18. PM sempat melontarkan pertanyaan kepada mereka, apa pendapat ibu dan bapak tentang sebuah wacana Pemko Tnjungpinang yang ingin menjadikan Puskesmas KM 10 bertaraf internasional, mereka menjawab sambil sedikit tersenyum, yang beginian kami tak tau mbak, kami Cuma rakyat biasa ungkapnya, cuman kalo bisa kami berharap tingkatkan pelayanan dan berlakukanlah pasien dengan baik. PM mencoba menghubungi beberapa pegawai yang berada sekitar pukesmas untuk menanyakan kelengkapan dan pelayanan yang ada pada pukesmas tersebut tetapi beberapa orang yang kita jumpai tidak mau diminta keterangan dengan alasan bukan wewenang saya ucapnya sambil pergi, sebagimana kita ketahui pelayanan kesehatan dimanapun itu harus memberlakukan para pasien dengan baik atapun dengan ramah tamah, karena pelayanan kesehatan itu sangat berhubungan langsung dengan masyarakat yang berbeda status, pasti mereka membutuhkan kenyamanan dalam berobat dan berkonsultasi(14/5/13).

FASILITAS PELABUHAN YANG TIDAK DIPERHATIKAN

Pelabuhan Tanjungpinang Sri Bintan Pura merupakan pelabuhan kebanggaan masyarakat Tanjungpinang yang telah melayani jasa bagi masyarakat dari dulunya. Setiap hari tidak terhitung berapa banyak masyarakat yang keluar masuk. Baik tujuan lokal, nasional ataupun internasional. Jika kita melihat dari perkembangan Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi. Tidak layak rasanya jika pelabuhannya semeraut dalam bidang jasa parkiran dan dari segi keuntungan mungkin penyumbang salah satu PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang besar bagi pemda setempat. Beberapa orang karyawan jasa parkiran sempat saya wawancara. Mereka mengungkapkan mengeluh dengan mengatasi parkiran. Karena setiap masyarakat yang masuk terkadang disuruh masuk di areal tempat parkiran malah cenderung duduk diatas motor atau mobil yang berdekatan dengan gerbang pintu masuk. Itu salah satunya. Begitu juga dengan mobil plat merah yang dari hasil uang masyarakat. Yang paling sulit diatur karena setiap disuruh parkir dekat arealnya selalu alasannya jemput pejabat. Jadi kami serba salah. Padahal pejabat dengan orang lain sama saja tetap akan terjadi kemacetan. Ditambah lokasi jalan yang sempit dan sebagian berlobang. Seharusnya pemda setempat harus membenahi semua fasiitas yang ada di pelabuhan. Baik itu dari segi jalan, dermaga, hingga di pelayanan. Baik pemda ataupun PT Pelindo dan ADPEL harus saling berkoordinasi untuk membenahi pelabuhan. Karena pelabuhan Sri Bintan Pura merupakan salah satu pintu gerbang untuk ke ibukota Provinsi. Yang pastinya mencerminkan sebagai salah satu kota besar. Tapi jika dilihat dari pintu gerbang saja sudah semeraut dan tidak bagus pelayanannya. Jangankan orang luar menilai jelek, kita-kita masyarakat saja sudah menilai jelek. Sementara uang yang dihasilkan sangat banyak. Begitu juga dengan pemda setempat yang APBD nya juga tergolong besar.

Maandag 20 Mei 2013

Monumen patung Raja Haji Fisabilillah





Tanjungpinang tempo dulu yang memiliki posisi dan kondisi dan cuaca yang baik dianggap sebagai tempat ideal bagi para armada pelayaran untuk berlindung dari serangan badai, atau untuk berlabuh sementara mengambil air dan perbekalan.
Raja Haji Fisabilillah merupakan seorang pahlawan yang memimpin perang Kerajaan Riau. Dalam perang Riau, Raja Haji Fisabilillah yang memimpin pasukan menembak kapal VOC yang bersandar di perairan Tanjung Pinang pada tanggal 6 Januari 1784. Peristiwa itu juga dijadikan hari jadi Kota Tanjung Pinang.
Untuk mengenang jasa Pahlawan dibuatlah Monumen Pahlawan Nasional Perjuangan Raja Haji Fisabilillah (1782-1784). Setelah beberapa tahun berdiri dengan gagah salah satu patung monumen tersebut jatuh lalu disusul dengan diturunkannya ke 4 patung lainnya.
Sejumlah pihak mempertanyakan kapan Monumen Raja Haji Fisabililah akan dibangun kembali pengganti patung yang telah roboh beberapa tahun lalu. Lembaga Adat Melayu Kota Tanjungpinang juga mempertanyakan hal ini. Pasalnya, lambang di monumen RHF tersebut merupakan simbol/ikon yang dimiliki ibukota Kepulauan Riau.
Selama ini banyak pro dan kontra terhadap pembangunan Monumen RHF dengan patung Raja Haji Fi Sabilillah. Keberadaan patung Raja Haji Fisabillah mengingatkan kembali kita dan diharapkan agar generasi muda sekarang harus ada seperti Raja Haji Fi Sabilillah yang berani, memberikan pendidikan moral, memberikan wawasan untuk berbuat baik melalui pesan-pesannya di Gurindam. Bukan untuk disembah.
Semenjak tahun 1784, Tanjungpinang semakin tumbuh sebagai sebuah tempat pemukiman dan kemudian menjadi sebuah kota yang juga berfungsi sebagai Bandar dagang. Dengan status sebagai kota dagang dan tempat pemukiman, Tanjungpinang memiliki peran strategis di Sumatera bagian timur setelah  Medan dan Palembang. Selain itu, Tanjungpinang ditetapkan sebagai kota keresidenan Belanda dengan cakupan wilayah yang begitu luas yaitu sampai ke Sumatera bagian utara dan bagian tengah.
Dengan pertumbuhan yang terbilang pesat, Tanjungpinang waktu itu merupakan satu-satunya pusat perdagangan di Kepulauan Riau. Pasca kemerdekaan, kota ini terus berkembang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan terutama ketika ditetapkan sebagai ibukota provinsi Riau sebelum berpindah ke Pekanbaru. Setelah itu Tanjungpinang dijadikan sebagai ibukota Kepulauan Riau yang melingkupi 17 kecamatan.

Woensdag 08 Mei 2013

Parkiran Tidak Beratur Mengakibatkan Pelabuhan Sering Macet


Tanjungpinang (7/5/13). Hujan turun begitu lebat dan teriakan klakson para pengumudi membuat suasana sedikit ricuh di areal pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, para pengendara roda dua yg suka menyelip dan parkiran yg kurang taratur membuat kemacetan tidak terhindarkan, beberap pemilik mobil ada yang kelaur dari mobilnya untuk melihat dan ikut mangatur kemacetan yang terjadi Salah seorang pengemudi mobil mengeluarkan kata-kata serapah karena begitu lamanya terjadi kemacetan yang tidak kunjung ada yng mengatasi, ditanya kepada penjaga tiket mereka mengatakan para petugas pakir sudah pada pulang karena pada saat itu jam menunjukan Pukul 17.20 Wib, mungkin saja para petugasnya sebagian sudah pada pulang. Karena tidak kunjung ada jalan keluar salah seorang petugas penjaga keamanan dengan pengemudi mengangkat beberapa motor yang parkiran di tengah-tengah jalan didepan kantor pelindo, mungkin melihat hari sudah petang para pengendera roda dua sudah tidak beraturan meletakkan motor mereka. Hingga 20 menit berlalu kemaceta tidak bisa juga teratasi akhirnya dari belakang ada yang mundur di bantu petugas penjaga tiket yang tidak mau namnya disebutkan, begini cermin pelabuhan jika lahan parkir dan para petugasnya tidak ada.

Woensdag 17 April 2013

HUKUM PEJABAT YANG KORUPSI DAN TENAGA PENDIDIK YANG CABUL


TANJUNGPINANG (18/04/13). Panas yang menyengat kulit beserta ramainya orang hilir mudik di bundaran Pamedan jam menujukan pukul 10.25 wib tidak menyurutkan niat Puluhan mahasiswa yang terjaring dari sebuah oraganisasi yang bernama “JARINGAN INFORMASI MAHASISWA KEPULAUAN RIAU” melakukan aksi damai dengan turun kejalan raya serta melakukan orasi yang begitu menggubris dan membuat para pendengar terasa miris, karena mahasiswa meneriakan PENCABULAN yang di lakukan seorang PEJABAT dari kalangan Pemerintah Provinsi yang latar belakang beliau dari seorang tenaga pendidik. Koordinator lapangan Ari Susanto mengatakan begitu bejat dan tidak terpujinya seorang pejabat yang notabene berlatar belakang dari pendidik melakukan pencabulan serta telah terbukti melakukan tindak pidana Korupsi tetapi tetap kebal hukum, inikah negara yang taat hukum, inikah negara yang menjunjung nilai-nilai pancasila kata koordinatornya, terus ada salah satu peserta aksi damai melontarkan orasi dengan meminta mentri dan petinggi pemda untuk menindak lanjuti dengan tegas pejabat yang telah melakukan korupsi serta pencabulan di copot dan diberhentikan secara tidak hormat dari jabatan dan status pegawainya, karena ini bisa berdampak buruk bagi perkembangan dunia pendidikan dan dunia kepegawaian di kepri, beliau seorang pejabat bukan seorang penjahat maka dari itu beliau harus memberikan contoh perilaku yang bisa meneladani dan bisa membimbing semua orang atau khalayak umum menjadi lebih baik. Selain berorasi mahasiswa juga menyebarkan selebaran dengan berisikan pernyataan sikap dengan isinya sebagai berikut. “ Salam sejahtera untuk kita semua HIDUP MAHASISWA HIDUP MAHASISWA HIDUP MAHASISWA MERDEKA!! PERNYATAAN SIKAP JARINGAN INFORMASI MAHASISWA “TANGKAP DAN ADILI” (1) Tangkap dan adili Atmadinata sebagai Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Dasar Kepri yang merupakan tersangka tindak pidana korupsi pembangunan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Bintan Timur, karena hingga pada saat ini yang bersangkutan tidak sama sekali tersentuh oleh tangan hukum. Dalam hal ini proyek yang ditangani oleh Panindan Purba dan Atmidata adalah sebesar i milyar yang dibiayai oleh APBD, dimana keduanya diduga telah melakukan korupsi sebesar Rp. 500.000.000 lebih dari total anggaran sebesar Rp. 882.000.000. namun Atmadinata kebal hukum, padahal kasus tersebut sudah masuk dalam pengadilan, namun tidak ada langkah lebih lanjut untuk hal ini. Ada apa dengan ini? (2)YANG BENAR KATAKAN BENAR YANG SALAH KATAKAN SALAH. Atmadinata merupakan seorang tenaga pendidik, namun perilakunya tidak sama sekali mencerminkan sebagai seorang pendidik. Atmadinata juga tersangkut masalah pencabulan, namun lagi-lagi Atmadinata kebal hukum, APA YANG TERJADI DENGAN KEPRI!! (3) Kami meminta dengan tegas kepada MENKUMHAM agar segera mempercepat pengesahan tentang UU pencabulan kepada WANITA. (4) MENDAGRI agar lebih tegas terhadap oknum kepolisian, dalam menanggapi kasus, dimana hingga saat ini Atmadinata yang sudah terbukti bersalah dan melakukan pencabulan tidak ada tindak lebih lanjut kepada tersangka. (5) MENPAN harus lebih jeli kepada pejabat daerah yang melakukan tindakan PENCABULAN, jangan terkesan MENPAN TAKUT KEPADA DAERAH!!! (6) MENTRI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN harus turun ke KEPRI, untuk melihat kinerja P2TP2A yang terkesan MANDUL karena tidak mengetahui fungsinya, jangan sampai terdapat calo mediasi. (7) MENTRI PENDIDIKAN harus turun ke KEPRI untuk memberikan pelatihan kepada oknum-oknum Pendidik serta melakukan pencopotan baik formal maupun non formal kepada PENDIDIK yang telah terbukti melakukan kesalahan yang cukup fatal, seperti halnya kasus pencabulan, jangan sampai timbul opini masyarakat bahwa MENTRI PENDIDIKAN seoalah-olah menutup-nutupi KESALAHAN!!! “ HARGA MATI UNTUK SEBUAH KEADILAN Hormat Kami, Jaringan Informasi Mahasiswa Kepulauan Riau KETUA KOORDINATOR LAPANGAN. Ari Susanto Pernyataan di atas adalah isi dari selebaran yang mana isinya tidak ada dikurangi dan di rubah maupun gaya bahasanya, selebaran ini dibagi-bagikan oleh mahasiswa yang melakukan aksi damai di bundaran pamedan, ada 2 orang mahasiswa perempuan meluapkan emosinya dengan mengucapkan sewaktu berorasi perkataan yang tidak pantas untuk di ungkapkan, ketika saya wawancarai 2 orang perempuan itu mengatakan ini perbuatan pelecehan terhadap kaum wanita tetapi mengapa tidak ada perempuan di kepri ini bertindak untuk memberikan sikap kepada pendidik dan pejabat yang seperti Atmadinata ini.

Dinsdag 16 April 2013

Kawasan Bisnis Menjadi Kawasan Perkantoran

TANJUNGPINANG. Bintan Center yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat tanjungpinang, kawasan bisnis yang di kembangakan oleh pengusaha yang ternama dengan konsep sebuah kawasan yang akan meningkatakan roda ekonomi masyarakat sekitar, semua fasilitas di lengkapi mulai dari kolam renang, pasar masyarakat, tempat senam, tempat pertemuan kawasan perdagangan hingga bisa di jadikan perkantoran, baik swasta maupun pemerintahan. Jika malam tiba kawasan Bintan Center tidak kalah ramai dengan kawasan Tanjungpinang yang lainnya, tapi yang sangat kita sesalkan dimana tujuan didirkan kawasan untuk mendongkrak ekonomi dari segi ekonomi perdagangan tapi malah sekarang kawasan Bintan Center 50% dijadikan perkantoran baik negeri maupun swasta. Seakan-akan konsep bisnis yang dikembangkan sebuah proyek gagal, tapi tidak demikian kata seorang pengusaha yang mengembangkan salah satu usahanya di bidang kuliner, beliau berkata mungkin beberapa tahun kedepan bisa kita rasakan kata pebisnis yang berdomisili di daerah Toapaya beliau mengembangkan usaha kuliner sudah berpindah-pindah rata-rata pelanggannya masih banyak yang mengikuti, tapi di bintan center ini kebanyakan para pegawai negeri yang berkujung. Kata pengusaha kuliner ini yang membuka sebuah sop tulang(nama tidak bole di publikasikan). Lain cerita pengusha ayam kremes yang berjualan disebelah beliau sekarang terasa sepi setelah beberapa instansi pemerintahan mulai berpindahan, jadi perkembangan ekonomi disekitar bintan center belum begitu baik, perlu langkah-langkah yang harus di dukung oleh pemerintah setemmpat untuk mengembangannya, mulaidari kerja sama dengan pengusaha hingga harus sering-sering mengadakan ivens-ivens yang bersifat promosi.