Tanjungpinang tempo dulu yang memiliki posisi dan kondisi dan cuaca yang baik dianggap sebagai tempat ideal bagi para armada pelayaran untuk berlindung dari serangan badai, atau untuk berlabuh sementara mengambil air dan perbekalan.
Raja Haji Fisabilillah merupakan seorang pahlawan yang memimpin perang Kerajaan Riau. Dalam perang Riau, Raja Haji Fisabilillah yang memimpin pasukan menembak kapal VOC yang bersandar di perairan Tanjung Pinang pada tanggal 6 Januari 1784. Peristiwa itu juga dijadikan hari jadi Kota Tanjung Pinang.
Untuk mengenang jasa Pahlawan dibuatlah Monumen Pahlawan Nasional Perjuangan Raja Haji Fisabilillah (1782-1784). Setelah beberapa tahun berdiri dengan gagah salah satu patung monumen tersebut jatuh lalu disusul dengan diturunkannya ke 4 patung lainnya.
Sejumlah pihak mempertanyakan kapan Monumen Raja Haji Fisabililah akan dibangun kembali pengganti patung yang telah roboh beberapa tahun lalu. Lembaga Adat Melayu Kota Tanjungpinang juga mempertanyakan hal ini. Pasalnya, lambang di monumen RHF tersebut merupakan simbol/ikon yang dimiliki ibukota Kepulauan Riau.
Sejumlah pihak mempertanyakan kapan Monumen Raja Haji Fisabililah akan dibangun kembali pengganti patung yang telah roboh beberapa tahun lalu. Lembaga Adat Melayu Kota Tanjungpinang juga mempertanyakan hal ini. Pasalnya, lambang di monumen RHF tersebut merupakan simbol/ikon yang dimiliki ibukota Kepulauan Riau.
Selama ini banyak pro dan kontra terhadap pembangunan Monumen RHF dengan patung Raja Haji Fi Sabilillah. Keberadaan patung Raja Haji Fisabillah mengingatkan kembali kita dan diharapkan agar generasi muda sekarang harus ada seperti Raja Haji Fi Sabilillah yang berani, memberikan pendidikan moral, memberikan wawasan untuk berbuat baik melalui pesan-pesannya di Gurindam. Bukan untuk disembah.
Semenjak tahun 1784, Tanjungpinang semakin tumbuh sebagai sebuah tempat pemukiman dan kemudian menjadi sebuah kota yang juga berfungsi sebagai Bandar dagang. Dengan status sebagai kota dagang dan tempat pemukiman, Tanjungpinang memiliki peran strategis di Sumatera bagian timur setelah Medan dan Palembang. Selain itu, Tanjungpinang ditetapkan sebagai kota keresidenan Belanda dengan cakupan wilayah yang begitu luas yaitu sampai ke Sumatera bagian utara dan bagian tengah.
Dengan pertumbuhan yang terbilang pesat, Tanjungpinang waktu itu merupakan satu-satunya pusat perdagangan di Kepulauan Riau. Pasca kemerdekaan, kota ini terus berkembang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan terutama ketika ditetapkan sebagai ibukota provinsi Riau sebelum berpindah ke Pekanbaru. Setelah itu Tanjungpinang dijadikan sebagai ibukota Kepulauan Riau yang melingkupi 17 kecamatan.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking